Malnutrisi

Malnutrisi adalah kondisi medis yang disebabkan oleh diet yang tidak tepat atau tidak cukup. Walaupun sering disamakan dengan kurang gizi karena kurangnya konsumsi, buruknya absorpsi, atau kehilangan nutrisi atau gizi, istilah ini sebenarnya juga mencakup kelebihan gizi (overnutrition) yang disebabkan oleh masuknya makanan secara berlebihan ke dalam tubuh. Seorang akan mengalami malnutrisi jika tidak mengonsumsi jumlah atau kualitas nutrien yang mencukupi untuk diet sehat selama jangka waktu yang lama. Malnutrisi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan kelaparan, penyakit, dan infeksi.

Di Indonesia, angka kebutuhan energi untuk:
a. Kelompok umur 0-6 bulan adalah 550 kkal/hari
b. Kelompok umur 7-12 bulan adalah 650 kkal/hari
c. Kelompok umur 1-3 tahun adalah 1000 kkal/hari
d. Kelompok umur 4-6 tahun adalah 1550 kkal/hari.

Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dimulai saat anak berusia 6 bulan dengan tetap memberikan ASI. Pemberian MPASI dinaikkan bertahap dari segi jumlah, frekuensi pemberian, jenis, dan konsistensi makanan yang diberikan. Untuk anak yang mendapatkan ASI, rata-rata makanan tambahan yang harus diberikan yaitu 2-3 kali/hari untuk usia 6-8 bulan, 3-4 kali/hari untuk usia 9-11 bulan, dan 4-5 kali/hari untuk usia 12-24 bulan. Jika densitas dalam makanan rendah atau anak tidak lagi mendapatkan ASI diperlukan frekuensi makan yang lebih sering. Variasi makanan diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrien. Daging, ayam, ikan atau telur, buah, dan sayuran harus diberikan setiap hari atau sesering mungkin. Kegagalan untuk menyediakan asupan makanan sesuai angka kebutuhan secara terus-menerus akan menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Padahal saat Balita adalah periode keeemasan (Golden periode) dan jendela kesempatan (Window opportunity) dimana otak sedang berkembang pesat dan memerlukan nutrisi. Bila terjadi malnutrisi maka dipastikan mereka akan jatuh kedalam gizi kurang, gizi buruk, dan pendek(stunting) sehingga menjadi generasi yang tidak berkualitas (lost generation).

Cara pemberian makanan yang salah dapat disebabkan karena ibu tidak memiliki pengetahuan yang cukup, misalnya mengenai pemberian ASI eksklusif maupun cara pemberian makanan pendamping ASI. Ibu seharusnya mendapatkan informasi yang lengkap dan objektif mengenai cara pemberian makanan yang bebas dari pengaruh komersial. Mereka perlu mengetahui masa pemberian ASI yang dianjurkan; waktu dimulainya pemberian makanan tambahan; jenis makanan apa yang harus diberikan, berapa banyak dan sering makanan diberikan, dan bagaimana cara memberikan makanan dengan aman.

Pada gizi buruk didapatkan dua bentuk klinis yaitu:
1. Kwashiorkor
Adalah gangguan gizi karena kekurangan protein, biasa sering disebut busung lapar. Gejala yang timbul adalah edema di seluruh tubuh terutama di punggung kaki, wajah membulat dan sembab, perubahan status mental: rewel kadang apatis, menolak segala jenis makanan (anoreksia), pembesaran jaringan hati, rambut kusam dan mudah dicabut, gangguan kulit yang disebut crazy pavement, dan pandangan mata tampak sayu. Pada umumnya penderita sering rewel dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

2. Marasmus
Adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul diantaranya adalah tampak sangat kurus (tinggal tulang terbungkus kulit), muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit, perut cekung, kulit keriput, rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati, dsb. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Pada stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

Penyakit lain yang menimbulkan Malnutrisi, antara lain:
3. Bulimia dan Anoreksia Nervosa
Merupakan suatu kelainan emosional/mental yang ditandai dengan pola dan cara makan yang salah. Bulimia ditandai dengan nafsu makan secara berlebihan namun disertai rasa takut akan bobot badannya berlebihan sehingga penderita melakukan induced vomitting (muntah disengaja). Anoreksia nervosa ditandai dengan hilangnya nafsu makan akibat pembatasan konsumsi makan secara tidak wajar karena rasa takut gemuk yang berlebihan.

Dampak negatif dari bulimia dan anoreksia nervosa adalah dehidrasi berat, kekurangan seluruh vitamin, mineral dan kejadian anemia. Selain itu penderita juga akan mengalami kerusakan dan kegagalan organ tubuh dan fungsinya, misalnya menstruasi tidak teratur atau tidak sama sekali, denyut jantung tidak teratur, gangguan tiroid dan gagal ginjal. Kematian pada penderita anoreksia juga kerap terjadi.

Beri-beri adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan thiamin (vitamin B1). Penyakit ini umumnya dialami dalam masyarakat yang makanan pokoknya adalah beras giling yang sudah tidak lagi mengandung cukup Vitamin B1. Umumnya organ yang mengalami masalah dengan penyakit ini adalah organ pencernaan dan pernafasan.

4. Beri-beri
Beri-beri akan menimbulkan masalah pada kelenjar tiroid yang akan menyebabkan penderita merasa cemas tanpa sebab. Kebutuhan akan vitamin B1 meningkat saat terjadi infeksi, dalam kondisi hamil dan menyusui.

Masalah lain yang akan timbul pada penderita beri-beri adalah gangguan fungsi saraf yang dapat mengakibatkan kelumpuhan atau kelemahan pada tungkai dan lengan, edema dan gangguan pada hati. Gejala antara lain: diare, kelelahan, nafsu makan dan berat badan turun, kelumpuhan, edema (bengkak karena cairan).

5. Kram / Kesemutan
Neuropati adalah kerusakan saraf karena penyakit, trauma pada saraf, atau dapat juga karena efek samping dari suatu penyakit sistemik. Gangguan ini dapat mengancam siapa saja. Neuropati juga dapat menyerang seseorang yang mengalami defisiensi vitamin B1, B6, dan B12. Vitamin ini adalah makanan saraf yang sangat dibutuhkan untuk melindungi dan meregenerasi saraf. Vitamin neurotropik berfungsi menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf.

Gejala neuropati meliputi nyeri seperti terbakar di tangan dan kaki, rasa baal, mati rasa, kram, kaku-kaku, kesemutan, kulit hipersensitif, kulit mengkilap tidak wajar, rambut rontok pada area tertentu, kelemahan tubuh dan anggota gerak, serta atrofi otot atau otot mengecil.

6. Pellagra
Adalah suatu penyakit akibat kekurangan suatu vitamin, biasanya disebabkan oleh kekurangan Niacin (vitamin B3) dalam makanannya dan sudah kronis. Hal tersebut disebabkan oleh menurunnya asupan niacin atau tryptophan, dan kemungkinan karena asupan leucine yang berlebihan. Penyakit Pellagra juga bisa disebabkan oleh kelainan metabolisme protein, seperti pada karsinoid sindrom. Kekurangan Asam Amino Lysine dapat juga menyebabkan kekurangan Niacin, hal ini berarti bahwa potensi lain penyebab pellagra adalah kekurangan asam amino lysine

7. Sariawan
Atau stomatitis aftosa adalah suatu kelainan pada selaput lendir mulut berupa luka pada mulut yang berbentuk bercak berwarna putih kekuningan dengan permukaan agak cekung.

Faktor penyebab munculnya sariawan, antara lain: luka tergigit, mengonsumsi makanan atau minuman panas, alergi, kekurangan vitamin C dan zat besi, kelainan pencernaan, kebersihan mulut tidak terjaga, faktor psikologi, dan kondisi tubuh yang tidak fit. Sariawan di tempat yang sama selama dua minggu hingga satu bulan dapat dijadikan indikasi adanya kanker rongga mulut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s