Obesitas / Kegemukan

Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.

Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas.

Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor:
1. Faktor genetik
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang dapat mendorong terjadinya obesitas, sehingga sulit untuk memisahkan gaya hidup dan faktor genetik.

2. Faktor lingkungan
Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

3. Faktor psikis
Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa memengaruhi kebiasaan makannya. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial. Banyak obat antidepresan untuk mengatasi stres yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Perasaan depresi sendiri juga berkaitan dengan berat badan.

4. Faktor kesehatan
Beberapa penyakit dapat menyebabkan obesitas, antara lain: hipotiroidisme, sindroma Cushing, sindroma Prader-Willia, muskuloskeletal, plantar fasciitis, osteoarthritis dan lutut atau nyeri pinggul, dan beberapa kelainan saraf yang dapat menyebabkan seseorang banyak makan.
NB: Sindroma Cushing ditandai dengan adanya pertambahan berat badan disertai dengan tekanan darah tinggi, osteoporosis, perubahan warna kulit keunguan atau keperakan pada perut, dan pipi menjadi kemerahan. Hal ini disebabkan karena tubuh tidak memproses nutrisi dengan tepat. Sindrom ini jarang terjadi dan disebabkan oleh terganggunya produksi hormon kortisol pada salah satu kelenjar adrenal oleh keberadaan tumor.

Beberapa obat-obatan seperti pil KB, terapi hormon, steroid, beta-blocker untuk penyakit jantung dan tekanan darah, obat-obatan anti-kejang, obat kanker payudara, beberapa pengobatan untuk rheumatoid arthritis, dan bahkan beberapa obat migrain dan nyeri ulu hati dapat menyebabkan bertambahnya berat badan. Beberapa obat dapat mempengaruhi nafsu makan sedangkan yang lainnya dapat mempengaruhi metabolisme tubuh.

5. Faktor perkembangan
Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.

6. Aktivitas Fisik
Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.

7. Buang air besar yang tidak teratur
Pencernaan yang lambat akan menyebabkan buang air besar tidak teratur dan kelebihan berat badan. Buang air besar sekali atau dua kali sehari masih berada dalam kisaran yang sehat. Penyebabnya adalah dehidrasi, konsumsi obat-obatan, diet rendah serat, atau kurangnya flora baik dalam usus.

8. Kekurangan nutrisi
Tubuh yang kurang mendapat asupan vitamin D, magnesium, atau besi dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh dan tingkat energi, atau mengubah metabolisme.

9. Metabolisme tubuh lambat
Metabolisme tubuh seseorang dapat melambat dan menyebabkan bertumpuknya kalori jika makanan yang dikonsumsi tidak seimbang, seperti terlalu banyak makan makanan yang mengandung karbohidrat sederhana. Protein lebih cepat dicerna daripada karbohidrat dan lemak.

Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada dapat menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernapasan dan sesak napas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas ringan. Gangguan pernapasan dapat terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernapasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita akan sering merasa ngantuk.

Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut, dan pergelangan kaki). Kadang ditemukan pula kelainan kulit. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Seringkali ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.

Obesitas meningkatkan risiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti:
– Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa)
Penelitian ogilvie menemukan 11 dari 18 orang menderita kegemukan terkena Diabetes Mellitus setelah mengalami kegemukan selama 18 tahun. Jadi berhati-hatilah jika sudah mengalami kegemukan selama 18 tahun.
– Tekanan darah tinggi (hipertensi)
– Stroke
– Serangan jantung (infark miokardium)
Jika tubuh gemuk  aliran darah tidak lancar, jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Orang gemuk 10 tahun lebih awal terkena serangan jantung dibanding orang dengan berat badan normal.
– Gagal jantung
– Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker payudara, kanker prostat dan kanker usus besar)
– Batu kandung empedu dan batu kandung kemih
– Gout dan artritis gout
– Osteoartritis
Wanita gemuk beresiko 4x lipat terkena radang sendi. Jika kita berjuang untuk menurunkan berat badan 5 kg saja, hal ini dapat mengurangi 50% sakit sendi.
– Tidur apneu (kegagalan untuk bernapas secara normal ketika sedang tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah).
Pria dengan lingkar leher diatas 43 cm dan wanita dengan lingkar leher diatas 40 cm memiliki risiko henti nafas (sleep apnea). Jika tidur mengalami henti nafas selama beberapa detik, dapat terjadi serangan jantung.
– Sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi dan ngantuk).
– Impotensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s